Pada penulisan ini saya
akan menuliskan ataupun mengisahkan peristiwa yang telah saya alami dimasa lalu,
bagi saya itu merupakan peristiwa yang memiliki hikmah tersendiri di mulai dari
ketika saya kecil hingga mencapai saat sekarang ini. Peristiwa yang mengesankan
yang dialami seseorang munkin akan sulit untuk dilupakan begitu saja bagi orang
yang mengalaminnya karena peristiwa yang mengesankan tersebut akan menjadi sebuah
cerita yang nantinya akan diceritakan pada anak – anak kita nantinya baik itu
peristiwa yang baik maupun yang buruk untuk diambil hikmah nantinya.
Pengalaman atau
peristiwa yang sangat mengesankan yang pernah saya alami bisa dikatakan peristiwa
yang terjadi dua kali dalam waktu yang berbeda mengapa demikin karena peristiwa
tersebut terjadi ketika saya melanggar perintah dari kedua orang tua saya.
Pengalaman yang pertama
terjadi ketika saya melanggar perintah dari ibu saya, dan saya masih ingat
ketika itu saya masih berusia sekitar enam tahun ketika itu ibu saya menyuruh
saya untuk menjaga toko, walaupun usia saya masih kecil saya sudah di suruh
demikian alasannya karena ibu saya mau solat ashar, dan saya yang masih kecil
tidak mau menurutin apa yang di perintahkan ibu saya, dan kemudian ibu saya
menyarankan dengan ucapan yang baik sehingga saya mau menuruti apa yang di
perintahkan ibu saya, tapi entah mangapa sepeninggalan ibu saya untuk solat
saya dengan beraninya kabur dari toko tersebut untuk jajan dan bermain, akan
tetapi setelah jauh dari toko saya mendapatkan balasan dari apa yang saya
kerjakan, ternyata setelah jaln cukup jauh tampa saya sadari kaki saya sudah
mengelurkan darah yang sangat banyak karena saya telah menginjak serpihan kaca
, kemudian saya berlari pulang dan ibu saya melihat darah dari kaki saya dengan
wajah yang lembut ibu saya membawa saya untuk berobat ke rumah sakit tampa
memarahi saya dan alhamdulillan kejadian tersebut meninggalkan tanda di kaki
kiri saya dengan jaitan sebanyak enam jaitan.
Pengalaman yang kedua
yang saya rasakan ketika saya melanggar perintah dari ayah saya, ternyata ibu
dan ayah saya telah memberikan pengalaman yang berharga untuk saya, pengalaman
yang saya rasakan ketika melanggar perintah dari ayah, saya masih berumur
sepuluh tahun, waktu itu di siang hari saya mau pergi main sama teman – teman saya
bersepeda, ketika saya mau pergi saya terlebih dahulu disarankan oleh ayah saya
untuk solat zuhur akan tetapi saya tidak menghiraukan apa yang disarankan oleh
ayah saya dan sayapun pergi bersepeda dengan teman – teman saya, setelah jauh
berjalan dan hari sudah mulai sore saya dan teman – teman mau pulang, ketika
mau pulang tersebut saya mendapatkan balasan dari apa yang telah saya lakukan
tadi sebelum berangkat bersepeda, kejadian tersebut berjalan cukup capat dan
tanpa saya sadari saya telah jatuh dari jembatan sehingga saya terperosot ke
aspal jembatan yang menurun kemudian saya pinsan dan telah meninggalkan
kenangan di bagaian tangan saya dan sedikit di bagian wajah saya.
Dari pengalaman yang telah
saya alami ini, saya mulai dapat merasakan betapa bahayanya jika kita tidak mau
mendengarkan omongan orang tua ataupun saran dari orang tua kita, dan saya juga
mendapatkan pelajaran betapa pentingnnya solat lima waktu sehari semalam Karena
kedua kejadian yang saya alami ini tidak jauh dari solat lima waktu yang telan
diperintahkan Allah s.w.t kepada kita, semoga pengalaman saya ini dapat
bermanfaat bagi pembaca terutama bagi saya sendiri.
Menurut aristoteles
keadilan adalah suatu kelayakan dalam tindakan manusia,
kelayakan menurut aristoteles
diartikan sebagai titik tengah di antara kedua ujung ekstrim yang terlalu
banyak dan terlalu sedikit. Kedua ekstrim itu menyangkut dua orang atau benda,
bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan,
maka masing – masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama, kalau tidak
sama, maka masing – masing orang akan menerima bagian yang tidak sama,
sedangkan pelanggaran terhadap proporsi tersebut berarti ketidak adilan.
Menurut plato diproyeksikan pada diri manusia
sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri, dan
perasaaannya dikendalikan oleh akal.
Sedangkan menurut pendapat dari Socretes yang
memproyeksikan keadilan pada pemerintahan, keadilan tercipta bilamana warga
negara sudah merasakan bahwa pihak pemerintah sudah melaksanakan tugasnya
dengan baik, mengapa diproyeksikan pada pemerintah, sebab pemerintah adalah
pimpinan pokok yang menentukan dinamika masyarakat.
Berdasarkan kesadaran etis, kita diminta untuk tidak
hanya menuntut hak dan lupa menjalankan kewajiban, jika kita hanya menuntut hak
dan lupa menjalankan kewajiban, maka sikap dan tindakan kita akan mengarah pada
perbudakan terhadap orang lain, sabaliknya jika kita hanya menjalankan
kewajiban tampa menuntut hak kita maka kita akan dipermudah dibudak oleh orang
lain.
B.Macam – macam keadilan
Pada
pembahasan ini keadilan dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok
diantaranya :
a.Keadilan
legal atau keadilan moral
Menurut plato keadilan dan hukum merupakan substansi
rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu
masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan yang menurut sifat
dasarnya paling cocok baginya. Pendapat plato ini disebut keadilan moral,
sedangkan sunoto menyebutnya keadilan legal.
b. Keadilan Distributif
Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan
terlaksana bilamana hal – hal yang sama diperlukan secara sama dan hal – hal yang
tidak sama, sebagai contohnya Andi bekerja 19 tahun dan Deni bekerja 5 tahun. Pada
waktu diberikan hadiah antara Andi dan Deni, yaitu perbedaaan sesuai dengan
lamanya bekerja, andai kata Andi menerima Rp. 1.200.000,- maka Deni harus
menerima Rp. 600.000,- akan tetapi bila besar hadiah Andi dan Deni sama maka
itu diktakan tidak adil.
c.Keadilan
komutatif
Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban
masyarakat dan kesejahteraan umum, bagi aristoteles pengertian keadilan itu
merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat, semua tindakan yang
bercorak ujung ekstrim menjadi ketidak adilan dan akan merusak atau bahkan
menghancurkan pertalian dalam masyarakat.
Keadilan memiliki dua hal yang tidak akan pernah
terpisahkan seperti yang telah sering kita dengar sehari – hari yakninya
kejujuran dan kecurangan.
-Kejujuran
kejujuran bisa dikatan bahwa
sesuatu yang dikatakan seseorang itu sesuai dengan hati nuraninya dengan kata
lain apa yang dia katakan sesuai dengan kenyataan yang ada, jujur juga berarti
seseorang yang memiliki hati yang bersih dari perbuatan – perbuatan yang
dilarang oleh agama dan hukum.
Orang bodoh yang jujur akan lebih
baik dari pada orang yang pintar yang suka curang, barang siapa yang tidak
dapat dipercaya tutur katanya atau tidak menepati janji dan kesanggupannya,
termasuk golongan orang munafik sehingga tidak menerima belas kasihan Tuhan.
Pada hakikatnya jujur atau
kejujuran dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi, kesadaran pengakuan akan adanya
sama hak dan kewajiban, serta rasa takut terhadap kesalahan atau dosa.
-Kecurangan
Kecurangan atau curang identik
dengan ketidak jujuran dan dapat disamakan dengan licik meskipun tidak sama,
sudah tentu kecurangan lawan dari kejujuran.
Curang merupakan sesuatu yang ia inginkan tidak sesuai dengan hati nuraninya
kecuali kalau sudah terniat didalam hatinya untuk berbuat curang dengan maksud
memperoleh keuntungan yang dapat berupa materi dan sebagainya
Kecurangan akan menyababkan manusia
menjadi serakah, tamak, ingin menimbulkan kekayaan yang berlebihan dengan
tujuan agar dianggap sebagi orang yang paling hebat, paling kaya, dan senang
bila masyarakat disekelilingnya hidup menderita, orang seperti itu biasanya
tidak senang bila ada yang melebihi kekayaannya, padahal agama juga telah
mengajarkan untuk mengumpulkan harta sebanyak – sebanyaknya tanpa menghiraukan
orang lain, lebih lagi mengumpulkan harta dengan jalan yang curang.
Adapun alasan yang menyebabkan
orang melakukan kecurangan , ditinjau dari hubungan manusia dengan alam
sekitarnya, ada empat aspek yaitu aspek ekonomi, aspek kebudayaan, aspek
peradaban, dan aspek teknik, apabila keempat aspek tersebut dilaksanakan secara
wajar, maka segalanya akan berjalan dengan norma – norma moral atau norma
hukum.
Setiap manusia memiliki banyak harapan didalam
kehidupannya, manusia yang tidak memiliki harapan berati manusia tersebut bisa
dikatakan mati dalam kehidupannya, dan bahkan orang yang telah meninggal
sekalipun juga mempunyai beberapa harapan setelah peninggalannya, yang biasanya
berupa pesan – pesan yang di sampaikan kepada para ahli warisnya.
Harapan yang dimiliki seseorang dapat berupa apa
saja, bisa dalam bentuk benda yang berbentuk nyata ataupun yang bersifat
keberhasilan dalam suatu pencapaian, dan harapan juga bergantung pada
pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup dan kemampuan masing – masing yang
dimiliki seseorang.
Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada
usaha yang telah dilakukan oleh orang yang mempunyai suatu harapan tersebut,
karena agamapun juga mengajarkan segala sesuatu yang kita dapatkan itu sesuai
dengan usaha yang kita kerjakan, begitu juga dengan harapan seseorang.
Harapan juga harus berdasarkan kepercayaan, baik
kepercayaan pada diri sendiri maupun pada Tuhan Yang Maha Esa, agar harapan
tersebut terwujud maka perlu usaha yang sungguh – sungguh, manusia wajib selalu
berdoa, karena usaha dan doa merupakan sarana tercapainya suatu harapan kita.
b.Penyebab manusia mempunyai harapan
Pada dasarnya manusia merupakan mahluk sosial yang
lahir kedunia ini lansung disambut dengan suatu pergaulan, yakni ditengah suatu
keluaraga dan anggota masyarakat lainnya, ada dua hal yang medorong manusia
hidup dalam pergaulan manusia lainnya yaitu dorongan kodrat dan dorongan
kebutuhan lainnya.
Menurut Maslow sesuai dengan kodrat dan dorongan
kebutuhan hidup itu manusia mempunyai suatu harapan, pada hakekat harapan itu
adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sesuai dengan kodratnya
harapan manusia atau kebutuhan manusia itu adalah :
-Kelangsungan hidup ( suvival )
-Keamana ( safety )
-Hak dan kewajiban mencintai dan dicintai
( be loving and love )
-Diakui lingkungan ( status )
-Perwujudan cita – cita ( self
actualization )
c.Kepercayaan
Kepercayaan berasal dari kata percaya artinya mengakui
atau meyakini akan kebenaran, kepercayaan adalah hal – hal yang berhubungan
dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran, karena didalam setiap
pencapaian suatu harapa kita harus memiliki keyakinan akan kebenaran.
Dasar dari kepercayaan itu adalah kebenaran, setiap manusia
akan mendambakan kebenaran, karena manusia sadar bahwa ketidak benaran dalam
bertindak, berucap dapat mencemarkan atau menjatuhkan namanya.
Menurut Dr Yuyun
Suriasumantri dalam bukunya filsafat ilmu mengemukakan tiga teori trntang
kebenaran :
1.Teori
koherensi, merupakan suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu
bersifat koheren atua konsisten dengan pernyataan – pernyataan sebelumnya yang
dianggap benar.
2.Teori
korespondensi, merupakan suatu teori yang menyatakan bahwa suatu pernyataan
benar bila materi pengetahuan yang dikandung pernyataan benar bila materi
pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondesi ( berhubunga ) dengan
objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
3.Teori
pragmatis, merupakan suatu teori kebenran akan suatu pernyataan diukur dengan
kriteria apakah pernyataan itu bersifat fungsional dalam kehidupan praktis.
Dasar kepercayaan adalah kebenaran,
sumber kebenaran adalah manusia.
Skizofrenia merupakan suatu jenis penyakit yang mengganggu psikis fungsional berupa gangguan mental berulang – ulang yang di tandai dengan gejala – gejala psikotik yang khas dan kemunduran fungsi sosial, kerja, dan perawatan diri, skizofrenia tipe satu biasanya ditandai dengan menonjolkan gejala – gejala berupa halusinasi , delusi dan longgarnya asosiasi dan pada tipe dua di temukan gejala - gejala berupa penarikan diri dari masyarakat, apati, dan perawatan diri yang buruk.
Gangguan kejiwaan skizofenia juga merupakan salah satu penyakit yang cenderung berkelanjutan, oleh karena itu penyakit skizofrenia membutuhkan waktu yang cukup lama dalam pengobatannya, dengan perkembangan dalam metode kesehatan pada saat sekarang ini penyakit skizofrenia dapat diobati dengan berbagai macam terapi, sehingga penderita tidak lagi mengalami pemasungan atau perawatan di rumah sakit jiwa dalam proses pengobatannnya.
B. Gejala yang dialami skizofrenia
Gejala yang dialami penderita skizofrenia sangat bervariasi diantaranya :
a. Gejala Positif
- Gangguan Persepsi
- Gangguan Delusi
- Gangguan Prilaku
b. Gejala Negatif
- Motivasi yang Rendah
- Menarik Diri dari Masyarakat
c. Gejala Kognitif
C. Faktor penyebab penyakit gangguan kejiwaan
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya gangguan kejiwaan baik yang berhubungan dengan skizofrenia, menurut dr. Luh Ketut Surya gangguan kejiwaan disebabkabkan beberapa faktor diantaranya faktor biologik, psikologik dan sosialbudaya.
a. Faktor Biologik
Untuk membuktikan bahwa gangguan jiwa adalah suatu penyakit seperti kriteria penyakit dalam ilmu kedokteran, para psikiater mengadakan banyak penelitian di antaranya mengenai kelainan-kelainan neutransmiter, biokimia, anatomi otak, dan faktor genetik yang ada hubungannya dengan gangguan jiwa.
Gangguan mental sebagian besar dihubungkan dengan keadaan neuttransmiter di otak, misalnya seperti pendapat Brown et al, 1983, yaitu fungsi sosial yang kompleks seperti agresi dan perilaku seksual sangat dipengaruhi oleh impuls serotonergik ke dalam hipokampus.
Demikian juga dengan pendapat Mackay, 1983, yang mengatakan noradrenalin yang ke hipotalamus bagian dorsal melayani sistem monoamine di limbokortikal berfungsi sebagai pemacu proses belajar, proses memusatkan perhatian pada rangsangan yang datangnya relevan dan reaksi terhadap stres. Pembuktian lainnya yang menyatakan bahwa gangguan jiwa merupakan suatu penyakit adalah di dalam studi keluarga.
Pada penelitian ini didapatkan bahwa keluarga penderita gangguan efektif, lebih banyak menderita gangguan afektif daripada skizofrenia (Kendell dan Brockington, 1980), skizofrenia erat hubungannya dengan faktor genetik (Kendler, 1983).
Tetapi psikosis paranoid tidak ada hubungannya dengan faktor genetik, demikian pendapat Kender, 1981). Walaupun beberapa peneliti tidak dapat membuktikan hubungan darah mendukung etiologi genetik, akan tetapi hal ini merupakan langkah pertama yang perlu dalam membangun kemungkinan keterangan genetik.
Bila salah satu orangtua mengalami skizofrenia kemungkinan 15 persen anaknya mengalami skizofrenia. Sementara bila kedua orangtua menderita maka 35-68 persen anaknya menderita skizofrenia, kemungkinan skizofrenia meningkat apabila orangtua, anak dan saudara kandung menderita skizofrenia (Benyamin, 1976).
Pendapat ini didukung Slater, 1966, yang menyatakan angka prevalensi skizofrenia lebih tinggi pada anggota keluarga yang individunya sakit dibandingkan dengan angka prevalensi penduduk umumnya.
b. Faktor Psikologik
Hubungan antara peristiwa hidup yang mengancam dan gangguan mental sangat kompleks tergantung dari situasi, individu dan konstitusi orang itu. Hal ini sangat tergantung pada bantuan teman, dan tetangga selama periode stres.
Struktur sosial, perubahan sosial dan tigkat sosial yang dicapai sangat bermakna dalam pengalaman hidup seseorang. Kepribadian merupakan bentuk ketahanan relatif dari situasi interpersonal yang berulang-ulang yang khas untuk kehidupan manusia.
Perilaku yang sekarang bukan merupakan ulangan impulsif dari riwayat waktu kecil, tetapi merupakan retensi pengumpulan dan pengambilan kembali. Setiap penderita yang mengalami gangguan jiwa fungsional memperlihatkan kegagalan yang mencolok dalam satu atau beberapa fase perkembangan akibat tidak kuatnya hubungan personal dengan keluarga, lingkungan sekolah atau dengan masyarakat sekitarnya.
Gejala yang diperlihatkan oleh seseorang merupakan perwujudan dari pengalaman yang lampau yaitu pengalaman masa bayi sampai dewasa.
c. Faktor Sosialbudaya
Gangguan jiwa yang terjadi di berbagai negara mempunyai perbedaan terutama mengenai pola perilakunya. Karakteristik suatu psikosis dalam suatu sosialbudaya tertentu berbeda dengan budaya lainnya.
Adanya perbedaan satu budaya dengan budaya yang lainnya, menurut Zubin, 1969, merupakan salah satu faktor terjadinya perbedaan distribusi dan tipe gangguan jiwa. Begitu pula Maretzki dan Nelson, 1969, mengatakan bahwa alkulturasi dapat menyebabkan pola kepribadian berubah dan terlihat pada psikopatologinya.
Pendapat ini didukung pernyataan Favazza (1980) yang menyatakan perubahan budaya yang cepat seperti identifikasi, kompetisi, alkulturasi dan penyesuaian dapat menimbulkan gangguan jiwa. Selain itu, status sosial ekonomi juga berpengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa Goodman (1983) yang meneliti status ekonomi menyatakan bahwa penderita yang dengan status ekonomi rendah erat hubungannya dengan prevalensi gangguan afaktif dan alkoholisma.
D. Pengobatan penyakit kejiwaan terutama skizofrenia
Tiga dari empat penderita skizofrenia dapat mengalami perbaikan dan dapat melakukan aktivitas sehari – hari dengan normal, saat ini dikenal beberapa cara penanganan skizofrenia diantaranya :
- Pengobatan dengan Anti Psikotik
Pemberian obat anti psikotik dapat menolong penderita untuk mengendalikan gejala – gejala skizofrenia, ada berbagai macam jenis anti psikotik yang dapat diberikan tergantung gejala yang ada pada penderita.
- Psikoterapi, Rehabilitasi dan Dukungan
Psikoterapi menolong pasien dari gejala fisik yang dirasakan seperti : kecemasan, panik, fobia, insomnia, defresi, gangguan dalam berhubungan dengan orang lain dan gangguan psikoseksual.
Rehabilitasi dan dukungan yang baik juga akan sangat membantu dalam penyembuhan skizofrenia, dapat mencegah kekambuhan, membantu pasien tetap berobat dan membantu pasien kembali ke kehidupan normal.
Prosa merupakan sebuah
karya satra yang telah berkembang dari dulu hingga sampai saat sekarang ini,
sehingga prosa dapat juga kita kelompokkan menjadi dua kelompok yaitu prosa
lama, dan prosa baru. Menurut Dr. J. S. Badudu perbedaan dari prosa lama dan prosa
baru adalah
1.Prosa lama
a.Prosa
lama cenderung bersifat statis.
b.Prosa
lama bersifat istanasentris.
c.Berbentuk
hikayat, tambo, dongeng, legenda, fabel dan sebagainya.
d.Di
pengaruhi oleh kesusastaraan Hindu dan Arab.
e.Milik
bersama.
2.Prosa baru
a.Prosa
baru sering bersifat dinamis.
b.Bersifat
masyarakat sentris
c.Berbentuk
roman, novel, cerpen, drama. Berjejak di dunia nyata berdasarkan kebenaran dan
kenyataan.
d.Di
pengaruhi kesusastraan Barat.
e.Bersifat
tertulis.
Contoh prosa lama dalam bentuk Hikayat :
Hikayat Amir
Dahulu kala di Sumatra, hiduplah seorang saudagar yang bernama Syah Alam.
Syah Alam mempunyai seorang anak bernama Amir, Amir tidak menghargai uangnya dengan baik. Setiap hari dia membelanjakan
uang yang diberi ayahnya, karena sayangnya pada Amir, Syah Alam tidak pernah
memarahinya, Syah Alam hanya bisa mengelus dada.
Lama-kelamaan Syah Alam jatuh sakit semakin hari sakitnya semakin parah. Banyak uang
yang dikeluarkan untuk pengobatan, tetapi tidak kunjung sembuh. Akhirnya mereka
jatuh miskin.
Penyakit Syah Alam semakin parah, sebelum meninggal, Syah Alam berkata”Amir, Ayah
tidak bisa memberikan apa-apa lagi padamu,engkau harus bisa membangun usaha lagi seperti Ayah
dulu, jangan kau
gunakan waktumu sia-sia. Bekerjalah yang giat, pergi dari rumah usahakan engkau terlihat
oleh bulan, jangan terlihat oleh matahari.”
”Ya, Ayah. Aku akan turuti
nasihatmu.”
Sesaat setelah Syah Amir meninggal, ibu Amir juga sakit parah dan akhirnya
meninggal. Sejak itu Amir bertekad untuk mencari pekerjaan. Ia teringat nasihat
ayahnya agar tidak terlihat matahari, tetapi terlihat bulan. Oleh sebab itu,
kemana-mana ia selalu memakai payung.
Pada suatu hari, Amir bertemu dengan Nasrudin, seorang menteri yang pandai, Nasarudin sangat heran
dengan pemuda yang selalu memakai payung itu. Nasarudin bertanya kenapa dia
berbuat demikian.
Amir bercerita alasannya berbuat demikian. Nasarudin tertawa. Nasarudin
berujar, ” Begini, ya., Amir. Bukan begitu maksud pesan ayahmu dulu. Akan tetapi,
pergilah sebelum matahari terbit dan pulanglah sebelum malam. Jadi, tidak
mengapa engkau terkena sinar matahari. ”
Setelah memberi nasihat, Nasarudin pun memberi pinjaman uang kepada Amir.
Amir disuruhnya berdagang sebagaimana dilakukan ayahnya dulu.
Amir lalu berjualan makanan dan minuman. Ia berjualan siang dan malam. Pada siang hari, Amir menjajakan makanan, seperti
nasi kapau, lemang, dan es limau. Malam harinya ia berjualan martabak,
sekoteng, dan nasi goreng. Lama-kelamaan usaha Amir semakin maju. Sejak it,
Amir menjadi saudagar kaya.
Keburukan :
Amir
merupakan orang yang tidak mau menghargai apa yang telah di anugrahkan allah
kepada dia, sehingga dia hanya menghabiskan apa yang telah di berikan oleh
orang tuannya, yang semuanya itu membuat dia untuk malas berkerja dan selalu bergantung
pada ayahnya yang kaya, tetapi amir lupa bahwasannya apa yang telah dimiliki
oleh ayahnya belum tentu dia akan mendapatkan yang demikian juga.
Kebaikan :
Dari
cerita Amir di atas kita juga dapat hikmah kebaikannya, ketika Amir telah
mendapatkan apa yang telah ia lakukan sebelumnya amir sadar dan termotivasi
untuk bekerja demi memenuhi amanah yang telah di berikan ayahnya, yang berpesan
untuk mengembalikan apa yang telah di capai ayahnya dulu dan bekerja dengan
tekun, bekerja sebelum terbit matahari hingga pulanglah sebelum malam. Dengan
amanah yang telah di berikan ayahnya ini sehingga dia giat bekerja dan selalu
melakukan pekerjaan dengan kegigihan dan ketekunan. berkat kegigihan dan
ketekunannya shingga Amir dapat mengembalikan keberhasilan yang telah di capai
oleh ayahnya.
Kesimpulan :
Kesalah
yang telah kita lakukan sebelumnya, bukan berarti akan menjadi penghalang untuk
kita berubah di kemudian harinya. Dan jadikanlah kesalah yang telah kita lakukan
sebagai motivasi kita untuk kedepannya dengan demikian kita akan mendapatkan
apa yang menjadi tujuan kita.
Contoh prosa baru yang berbentuk cerpen
:
Sahabat
Sejati
Betapa enak menjadi orang kaya.
Semua serba ada. Segala keinginan terpenuhi. Karena semua tersedia. Seperti
Iwan. Ia anak konglomerat. Berangkat dan pulang sekolah selalu diantar mobil
mewah dengan supir pribadi.
Meskipun demikian ia tidaklah sombong. Juga sikap
orang tuanya. Mereka sangat ramah. Mereka tidak pilih-pilih dalam soal bergaul.
Seperti pada kawan kawan Iwan yang datang ke rumahnya. Mereka menyambut seolah
keluarga. Sehingga kawan-kawan banyak yang betah kalau main di rumah Iwan.
Iwan sebenarnya mempunyai sahabat
setia. Namanya Momon. Rumahnya masih satu kelurahan dengan rumah Iwan. Hanya
beda RT. Namun, sudah hampir dua minggu Momon tidak main ke rumah Iwan.
“Ke mana, ya,Ma, Momon. Lama tidak
muncul. Biasanya tiap hari ia tidak pernah absen. Selalu datang.”
“Mungkin sakit!” jawab Mama.
“Ih, iya, siapa tahu, ya, Ma? Kalau
begitu nanti sore aku ingin menengoknya!” katanya bersemangat
Sudah tiga kali pintu rumah Momon
diketuk Iwan. Tapi lama tak ada yang membuka. Kemudian Iwan menanyakan ke
tetangga sebelah rumah Momon. Ia mendapat keterangan bahwa momon sudah dua
minggu ikut orang tuanya pulang ke desa. Menurut kabar, bapak Momon di-PHK dari
pekerjaannya. Rencananya mereka akan menjadi petani saja. Meskipun akhirnya
mengorbankan kepentingan Momon. Terpaksa Momon tidak bisa melanjutkan sekolah
lagi.
“Oh, kasihan Momon,” ucapnya dalam
hati,
Di rumah Iwan tampak melamun. Ia
memikirkan nasib sahabatnya itu. Setiap pulang sekolah ia selalu murung.
“Ada apa, Wan? Kamu seperti tampak
lesu. Tidak seperti biasa. Kalau pulang sekolah selalu tegar dan ceria!” Papa
menegur
“Momon, Pa.”
“Memangnya kenapa dengan sahabatmu
itu. Sakitkah ia?”
Iwan menggeleng.
“Lantas!” Papa penasaran ingin tahu.
“Momon sekarang sudah pindah rumah.
Kata tetangganya ia ikut orang tuanya pulang ke desa. Kabarnya bapaknya di-PHK.
Mereka katanya ingin menjadi petani saja”.
Papa menatap wajah Iwan tampak
tertegun seperti kurang percaya dengan omongan Iwan.
“Kalau Papa tidak percaya, Tanya,
deh, ke Pak RT atau ke tetangga sebelah!” ujarnya.
“Lalu apa rencana kamu?”
“Aku harap Papa bisa menolong
Momon!”
“Maksudmu?”
“Saya ingin Momon bisa berkumpul
kembali dengan aku!” Iwan memohon dengan agak mendesak.
“Baiklah kalau begitu. Tapi, kamu
harus mencari alamat Momon di desa itu!” kata Papa.
Dua hari kemudian Iwan baru berhasil
memperoleh alamat rumah Momon di desa. Ia merasa senang. Ini karena berkat
pertolongan pemilik rumah yang pernah dikontrak keluarga Momon.
Kemudian Iwan bersama Papa datang ke
rumah Momon di wilayah Kadipaten. Namun lokasi rumahnya masih masuk ke dalam.
Bisa di tempuh dengan jalan kaki dua kilometer. Kedatangan kami disambut orang
tua Momon dan Momon sendiri. Betapa gembira hati Momon ketika bertemu dengan
Iwan. Mereka berpelukan cukup lama untuk melepas rasa rindu.
Semula Momon agak kaget dengan
kedatangan Iwan secara mendadak. Soalnya ia tidak memberi tahu lebih dulu kalau
Iwan inginberkunjung ke rumah Momon di desa.
“Sorry, ya, Wan. Aku tak sempat
memberi tahu kamu!”
“Ah, tidak apa-apa. Yang penting aku
merasa gembira. Karena kita bisa berjumpa kembali!”
Setelah omong-omong cukup lama, Papa
menjelaskan tujuan kedatangannya kepada orang tua Momon. Ternyata orang tua
Momon tidak keberatan, dan menyerahkan segala keputusan kepada Momon sendiri.
“Begini, Mon, kedatangan kami
kemari, ingin mengajak kamu agar mau ikut kami ke Bandung. Kami menganggap kamu
itu sudah seperti keluarga kami sendiri. Gimana Mon, apakah kamu mau?” Tanya
Papa.
“Soal sekolah kamu,” lanjut Papa,
“kamu tak usah khawatir. Segala biaya pendidikan kamu saya yang akan
menanggung.”
“Baiklah kalau memang Bapak dan Iwan
menghendaki demikian, saya bersedia. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas
kebaikan Bapak yang mau membantu saya.”
Kemudian Iwan bangkit dari tempat
duduk lalu mendekat memeluk Momon. Tampak mata Iwan berkaca-kaca. Karena merasa
bahagia.Akhirnya mereka dapat berkumpul kembali. Ternyata mereka adalah sahabat
sejati yang tak terpisahkan.
Kini Momon tinggal di rumah Iwan.
Sementara orang tuanya tetap di desa. Selain mengerjakan sawah, mereka juga
merawat nenek Momon yang sudah tua
Keburukan :
Mukin dari cerita di
atas kita tidak dapat melihat keburukan dari seorang Iwan maupun Momon, akan
tetapi sedikit keburukan ketika ayah Momon memilih untuk pulang ke kampung dan
menyebabkan Momon putus dari sekolahnya, ayahnya Momon tidak optimis dan mau
berusaha untuk pekerjaan yang lainnya, sehingga Momon berhenti dari sekolah,
dan ikut ayahnya bertani di kampungnya yang kemudian Haknya Momon untuk belajar
tidak bisa di penuhi.
Kebaikan :
Dari cerita di atas kita
dapat mengambil hikmah berupa kesetian terhadap sesama, dari cerita di atas
kita juga dapat membedakan seorang Iwan dengan Amir pada cerita sebelumnya,
Iwan patut kita contoh karena dengan semua yang dia miliki tidak membuat Iwan
lupa dan sombong, dan Iwan mensyukuri kebahagian dia dengan berbagi dengan
sesama, dapat kita lihat ketika Iwan mengajak Momo untuk bersekolah lagi dan
tinggal di rumah Iwan melihatkan bahwa Iwan tidak lupa dengan orang – orang
yang membutuhkan yang berada di sekitar dia dan mensyukuri nikmat yang telah di
berikan allah.
Kesimpulan :
Kebahagian
akan di dapat ketika kita dapat memebantu orang yang membutuhkan pertolongan
kita.
Sumber :
Bina Bahasa dan
Sastra Indonesia kelas IV: Erlangga